HINDU DHARMA:

AGAMA KEBEBASAN YANG MEMBEBASKAN?

Mahayogi Sri Svami Sivanandaji Maharaj dari Himalaya mengatakan, Hinduisme itu sesungguhnya lebih merupakan gabungan keyakinan dan ragam filsafat. Hinduisme itu bukanlah agama tunggal. Kalaupun disebut agama, ia adalah agama kebebasan dan juga agama pembebasan,demikian kesimpulan Beliau. Agama kebebasan maksudnya setiap orang Hindu diberi tempat yang leluasa untuk memilih pendekatan spiritualnya sesuai bakat, kemampuan dan selera rohaninya masing-masing. Hinduisme menyadari talenta setiap orang berbeda-beda. Namun perbedaan –perbedaan itu dikawal oleh rambu rambu kebijaksanaan kuno Sanatana Dharma, agar kebebasan itu tetap bergerak dalam koridor Waidika Dharma (berlandaskan kitab suci Weda atau tidak bertentangan dengannya). Karena itu, keanekaragaman praktek agama sesuai desa, kala, patra mendapat tempat terhormat dalam Hinduisme. Terkait dengan ini Gita  menegaskan, “dengan jalan apapun kita mendekati Tuhan, dengan jalan yang sama Tuhan mendekati pemujaNya. Semua jalan akhirnya bermuara dalam samudra kasih Tuhan”.

Hinduisme disebut agama pembebasan karena seperti makna agama itu sendiri yang berarti ‘membawa kembali” kepada Tuhan. Orang  yang berpaling kepada Tuhan adalah jiwa-jiwa yang ingin bebas dari belenggu samsara. Jadi kebebasan untuk menentukan keyakinan dalam Hinduisme harus mampu membuat seseorang ‘mendekati Tuhan hingga ia berhasil mencapai mukti atau pembebasan dari roda samsara (cakra manggilingan).

Lantas, bagaimana kita melihat sebuah jalan yang kita pilih itu benar atau salah? Karena orang awan semacam kita tidak tahu dengan jelas batasan Waidika Dharma itu?

Bhagawan Kasyapa, (pencetus waisesika Darsana) telah memberi rambu-rambu. Kata beliau, usaha spiritual yang dapat meningkatkan dan membawamu lebih dekat kepada Tuhan adalah jalan yang benar. Sebaliknya, usaha yang menjuahkan engkau dari Tuhan adalah arah yang salah.Jadi,anda bebas memilih jalan apa saja asalkan jalan itu mendekatkan engkau kepada Tuhan.Dan,andapun akan terbebas dari rantai samsara.Mau? (Selengkapnya,silakan baca buku saya berjudul : MAU APA DENGAN HIDUP,Penerbit Paramita Surabaya)